Matematika SMA / Kelas XI / Semester 1
BAB 5 · MATERI 5 DARI 5

Matriks

Melakukan operasi matriks dan penerapannya

💡 Konsep Inti

Matriks adalah susunan bilangan dalam baris dan kolom, dipakai untuk menyimpan dan mengolah banyak data sekaligus. Ukuran matriks ditulis sebagai banyak baris kali banyak kolom. Penjumlahan dan pengurangan matriks dilakukan pada unsur yang seletak, sehingga hanya bisa dilakukan bila ukurannya sama. Perkalian matriks lebih rumit. Unsur baris matriks pertama dikalikan unsur kolom matriks kedua, lalu hasilnya dijumlahkan. Karena itu banyak kolom matriks pertama harus sama dengan banyak baris matriks kedua.

🌍 Penggunaan Konsep Ini

Matriks dipakai untuk mengolah data tabel yang besar, mengatur transformasi gambar pada komputer grafis, dan menghitung rute pada jaringan. Matriks juga bisa menyelesaikan sistem persamaan linear banyak variabel dalam satu perhitungan.

⚡ Rumus dan Prinsip

Ordo matriks: baris × kolom
Penjumlahan: unsur seletak dijumlahkan, ordo harus sama
Perkalian: kolom A harus sama dengan baris B
Determinan 2×2: ad − bc

Perhatikan syarat penggunaan rumus, arti setiap variabel, dan domain nilai yang diperbolehkan.

🧩 Contoh Masalah

Diketahui matriks A berordo 2×2 dengan baris pertama 1 dan 2, serta baris kedua 3 dan 4. Tentukan determinannya, lalu tentukan hasil A + B bila B memiliki baris pertama 5 dan 6, serta baris kedua 7 dan 8.

DIKETAHUI
Matriks A dan B keduanya berordo 2×2 seperti disebutkan
DITANYAKAN
Determinan A dan hasil penjumlahan A + B

✏️ Penyelesaian Langkah demi Langkah

  1. Determinan matriks 2×2 dihitung dengan ad − bc, yaitu (1 × 4) − (2 × 3)
  2. det A = 4 − 6 = −2
  3. Penjumlahan dilakukan pada unsur seletak, sehingga baris pertama menjadi 1+5 dan 2+6, yaitu 6 dan 8
  4. Baris kedua menjadi 3+7 dan 4+8, yaitu 10 dan 12
Kesimpulan: Determinan A adalah −2, dan hasil A + B memiliki baris pertama 6 dan 8, serta baris kedua 10 dan 12.

🔍 Strategi Berpikir

Determinan bukan sekadar angka hasil hitungan. Bila determinan sebuah matriks bernilai nol, matriks itu tidak punya invers, dan sistem persamaan yang diwakilinya tidak punya penyelesaian tunggal. Karena itu memeriksa determinan sering menjadi langkah pertama sebelum perhitungan yang lebih panjang.

🧩 Contoh kedua dan pembahasan lanjutan

Misalkan matriks A memiliki baris pertama 2 dan 3, serta baris kedua 1 dan 4. Determinannya (2 × 4) − (3 × 1) = 5. Karena tidak nol, inversnya ada. Tukar unsur diagonal utama, ubah tanda unsur diagonal lainnya, lalu bagi dengan determinan: A⁻¹ = ⅕ × (baris pertama 4 dan −3, baris kedua −1 dan 2).

Uji dengan mengalikan A × A⁻¹. Baris pertama A dikali kolom pertama invers: 2 × 4 + 3 × (−1) = 5, dan dikali kolom kedua: 2 × (−3) + 3 × 2 = 0. Baris kedua: 1 × 4 + 4 × (−1) = 0 dan 1 × (−3) + 4 × 2 = 5. Setelah dibagi 5, hasilnya adalah matriks identitas dengan 1 di diagonal dan 0 di tempat lain. Bila hasilnya bukan identitas, periksa kembali tanda pada langkah penukaran.

⚠️ Kekeliruan yang Sering Muncul

  • Mengalikan matriks pada unsur seletak seperti pada penjumlahan, padahal aturannya berbeda.
  • Menjumlahkan dua matriks yang ordonya tidak sama.
  • Mengira perkalian matriks bersifat komutatif, padahal A × B umumnya tidak sama dengan B × A.

🎯 Latihan Mandiri

Tentukan determinan matriks 2×2 dengan baris pertama 3 dan 5, serta baris kedua 2 dan 4.

Lihat pembahasan setelah mencoba
det = (3 × 4) − (5 × 2) = 12 − 10 = 2. Karena determinannya tidak nol, matriks ini memiliki invers.

✅ Refleksi

Susun sistem persamaan 2x + 3y = 8 dan x − y = 1 dalam bentuk matriks, lalu hitung determinan matriks koefisiennya. Apa arti hasilnya bagi banyaknya penyelesaian sistem itu?

📚 Catatan pembelajaran: materi disusun sebagai kerangka umum Matematika SMA dan dapat diselaraskan dengan CP, TP, ATP, asesmen, serta kebijakan Kurikulum Merdeka di sekolah.